Cerpen: Sang Agen Perubahan



Tema: Cerita Pemuda untuk Tanah Air
 
            Apa yang akan dikatakan para pemuda mengenai negaranya sendiri? Apa yang akan dilakukan para pemimpin bangsa ini? Bagaimana semuanya bergerak dan berjalan baik agar semua hal dapat berhasil sesuai apa yang dituju? Inilah kisah perjuangan sang agen perubahan –pemuda– yang tak kenal kata menyerah, kata pantang mundur. Yang ia ketahui hanyalah ‘ayo maju’ dan ‘berpikir’.


-o0o-
           
            Tempat ia berdiri sekarang adalah tempat dimana lima tahun yang lalu, ia ingin sekali mendatanginya, ingin sekali menginjakkan kakinya di atas tempat ini. Universitas impiannya. Iya, mungkin ini hanyalah sebuah mimpi kecil bagi sebagian orang, tetapi tidak untuk Riki. Semangatnya untuk menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi masih tetap membara, mungkin akan kekal abadi demi misinya. Sebuah misi berat yang diemban dengan harapan semua dapat berubah menjadi lebih baik.
Jenjang dimana ia dapat menjunjung keadilan tanpa dipandang sebelah mata. Apalagi yang ia harapkan selain menjadikan bangsa dan Negara ini menjadi seperti keinginan para pejuang dahulu. Rasa nasionalisme Riki tak pernah padam. Masa-masa dimana ia menjadi mahasiswa baru seperti sekarang ini tidak disia-siakannya.
            “Rik, ngapain sih kok seneng banget searching tentang orasi, kemerdekaan, ah apalah namanya yang sering elu cari itu?” tanya salah seorang teman baru Riki, namanya Bagus.
            “Rik dijawab dong kalo gue tanya.” Riki tetap diam
            Kesabaran Bagus yang sedari tadi penasaran apa yang sebenarnya dilakukan Riki setiap ada waktu luang selama ini telah diambang batas, ia pun menggoncang-goncang bahu temannya itu sehingga Riki meresponnya.
            “Oke oke, gue jelasin. Sekarang gue mau tanya deh sama elu. Apa yang terjadi kalo gak ada pejuang zaman dulu?”
            “Ngomong apa sih? Yang simple dikit lah biar gue paham”
            Riki berusaha membetulkan posisi duduknya, menyesuaikan posisi duduk Bagus agar dapat lebih jelas menerangkan banyak hal yang dipikirkannya selama ini. ‘Mungkin ini akan menjadi lebih sulit daripada yang aku bayangkan’ batin Riki, karena ia mengerti bahwa setiap orang tidak akan bisa menerima dengan mudahnya pendapatnya. Riki mencoba mengatur nafasnya sebelum berkata-kata.
            “Indonesia merdeka karena siapa?”
            “Karena pahlawan jaman dulu lah, siapa lagi?” ujar Bagus apa adanya
            “Nah, pernah gak elu berpikir kenapa mereka niat banget buat jadi pahlawan? Enggak kan? Itu karena mereka gak pernah niat jadi pahlawan. Mereka cuma pengen daerah yang ditinggali untuk hidup bebas dari gangguan siapapun. Contohnya ya dari penjajah-penjajah seperti Belanda dan Jepang.”
            “Pahlawan kemerdekaan itu gak cuma mereka yang dikubur di makam pahlawan aja. Setiap mereka yang berusaha melawan penjajah ataupun lainnya dan terbunuh tanpa ada satu orang pun yang mampu menemukannya, mereka juga disebut pahlawan. Jangan elu kira mereka mati sia-sia, justru mereka pasti bangga karena apa yang mereka lakukan.” Papar Riki lagi.
            “Terus masalahnya apa? Apa hubungannya sama kegiatan elu nyari info tentang organisasi, orasi, dan lain-lain itu?” Benar saja, ternyata Bagus masih belum bisa memahami apa yang ia sampaikan.
            Plak !!
            “Dasar mahasiswa gak peka banget sama keadaan sosial. Makan apa sih elu? Dikasih makan apa sama ibu kos, hah?”
            “Sakit tau Rik, ya maaf gue kan punya otak agak lambat. Ini otak edisi Pentium 4, hehe” bantah Bagus sambil cengengesan.
            “Intinya gini, kita itu harus bersyukur udah dikasih kesempatan enak, gak perlu lagi ngerasain yang namanya penyiksaan jaman-jaman penjajahan. Dan sebagai wujud terima kasih kita apa? Ya dengan berusaha membangun bangsa dan Negara ini menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Dengan apa? Kita lihat, posisi kita sebagai mahasiswa. Otomatis kita gak bisa langsung bertindak seperti Presiden atau MPR.” Bagus tampak mulai memahami apa yang dimaksud temannya itu.
“Nah, yang harus kita lakukan, pertama sadari dulu posisi kita ini siapa dan sebagai apa. Yang kedua, start doing. Terakhir, never stop! Sebanyak apapun kontribusi kita untuk Negara tapi di tengah jalan kita berhenti, yaudah balik ke nol lagi.”
Bagus mengangguk-anggukkan kepalanya mengisyaratkan bahwa ia paham. “Iya ya Rik,, kok gue bodoh banget ya gak bisa berpikir sejauh itu. Oke mulai sekarang gue janji gue akan membangun negeri ini menjadi lebih baik. Kalo bisa menjadi yang terbaik hehe.”
“Jangan ngaco deh.”
“Loh kenapa? Apa gue salah?” Bagus mengernyitkan dahinya.
“Kalo udah jadi terbaik, elu bakal bawa Indonesia kemana lagi? Bandingin sama kata lebih baik, itu berarti tiap tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik kita selalu berupaya untuk menjadi lebih.” Dengan mantap Riki mengutarakan kalimatnya.
“Waah, gak nyangka gue bisa punya temen kayak elu, ahaha”
Keduanya saling tertawa lepas tanpa ada beban apapun, tapi di dalam jiwa dan otak mereka, ada setitik cahaya yang akan selalu tumbuh menjadi cahaya yang begitu terangnya hingga mampu menerangi dunia.

-o0o-

            Riki dan Bagus tak pernah melupakan janjinya, bertahun-tahun ia turut aktif dalam organisasi kemahasiwaan dan berbagai kegiatan yang menurut mereka mampu membangun negeri ini menjadi lebih baik seperti mimpi mereka. Setitik cahaya itu kini telah tumbuh menjadi lentera dimana-mana.
Riki sukses dengan impiannya, mulai dari membuat sekolah bagi anak jalanan, membangun rumah sakit tanpa biaya, dan masih banyak lainnya. Ini semua adalah tugas yang diembannya selama ini, ia akan terus berjuang. Ia tidak akan pernah berhenti. Sampai kapanpun.
Bagus tak kalah hebat, ia memiliki lembaga penampung pengangguran dan di tempat itulah mereka diberi pengalaman dan keterampilan dan akhirnya dapat membuka usaha-usaha sendiri. Bagus dan Riki, keduanya adalah sang agen perubahan, permata indah negeri ini, bagi tanah air tercinta ini. Siapapun bisa seperti mereka, jangan pernah takut untuk mencoba dan jangan pernah berhenti di tengah jalan, itu akan membuatmu menemui masalah yang akan lebih berat dari sebelumnya.

-The End-


NB: Karya ini pernah diikutsertakan dalam lomba yang diselenggarakan UKM Mata Pena Universitas Brawijaya

Komentar

  1. Wih... rapi juga tulisan kamu, Yan. Sampai istilah asing yang memang perlu dicetak miring juga kamu cetak miring. Waktu seusia kamu *halah sok tua* tulisan aku jauh lebih berantakan dari ini. Sekarang pun masih sih... hehee...

    Perluas bahan bacaan terus, Yan. Apa aja. Esai, cerpen, puisi, berita di koran, artikel apa aja deh...

    Soalnya, dialog antar tokoh di cerpen ini masih teortis sekali dan kaku. Terus jalan ceritanya juga masih ala sinetron sekali, Dian (:

    Bagian tiba-tiba Riki sama Bagus bisa mencapai cita-citanya dengan lancar itu tuh... yang ala sinetron sekali. Panjang nih sebenernya aku kalau komen. Takutnya bacanya bosen kamunya hehehee...

    Omong-omong aku baru tahu kamu ikut lomba dari Mata Pena UB. Ini tema tahun lalau ya? Kalau ndak salah. Aku datang di acara pengumuman yang ada talkshow menulisnya itu. Dateng soalnya numpang undangan temen dari salah satu komunitas sih...

    Eh iya. Aku kenal sama tiga pemenang utama di lomba itu. Karya juara tiganya kalau ndak salah sih bisa dibaca via online kalau kamu pengin belajar dari karya mereka.

    BalasHapus
  2. hehe, jadi malu baca komennya mbak Poppy. makasih loh mbak udah nyempetin baca tulisan aku. iyaa aku susah bikin dialog haha :).

    liburan kayak gini sedih mbak gak ada bahan yang bisa dibaca. toko buku juga jauh dari rumah. sekali lagi makasih buanyaak masukannya mbak. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, MP3 dan Blogger

Pelangi Tanpa Warna