Cerpen: Risha

 "Kebahagiaan bukanlah semata didapat karena uang, jabatan dan cantik-rupawan. Karena bisa jadi itu semua kemunafikkan. Maka, jadilah pribadi yang menampilkan kesederhanaan, kepribadian yang menyenangkan, dan tak lupa dengan Tuhan. :)"

Kedatangan pria tak dikenal setiap hari sudah biasa bagi Risha. Seperti di sebuah negeri asing, dia tak bisa menghafal satu pun wajah yang pernah mendatanginya. Ralat, bukan dia yang dicari, melainkan ibunya. Semenjak ayahnya meniggal dunia, Aima -ibu Risha- merasa terpukul. Tak ingin hidup gelandangan, ia memilih mengencani pria-pria hidung belang di luar sana.


Kadang, ia pulang dengan membawa bekas luka yang sudah membiru, mungkin saja ia beradu mulut dengan pria-nya. Semua pria hidung belang sama, arogan. Kalau sudah begitu, ia Aima hanya bisa menutupi bekas lukanya dengan gaun yang lebih tertutup.

"Ma, aku malu sama tetangga. Kenapa sih mama berubah?"

Berkali-kali Risha melarang ibunya menemui pria tak berperikemanusiaan itu. Pun ibunya, berkali-kali menerangkan pada Risha. "Kamu mau melarat? Uang pensiun ayah kamu nggak cukup Sha buat hidup."

Kalu sudah begitu, mau bagaimana lagi. Tapi, semenjak itu Risha jarang pulang. Ia lebih memilih menyendiri. Menyendiri seperti ini bisa membuatnya merasa lebih tenang, tak ada lagi gangguan. Yang ia butuhkan, hanyalah kedamaian.

Perlahan, ia melihat secercah cahaya ketika ia berjalan di jembatan. Risha sangat ingin menggapainya, tapi ia sendiri tak sadar tangannya menggapai sesuatu yang fana, kosong. Rupanya cahaya tadi hanyalah khayalannya. Terlambat, tubuhnya sudah terjun dari ketinggian menuju laut lepas. Tak lama, badannya tercebur dan membuat orang-orang sekitar menengok ke bawah.

"Tak apa, selama aku bisa tenang. Mama, maaf aku nggak pulang."


07 Agustus 2016 06.03 PM

Ini cerita yang super duka, karena kebanyakan baca kisah kayak gini, makanya tertantang buat bikin cerita sendiri. Meski nggak suka banget sama sad ending :( 
Namanya juga cerpen, jadi yaa pendek nggak apa-apa lah. Yang penting berkreasi dan tetap semangaat! :D

Komentar

  1. Yang nggak enak kamu pos cerpennya pas tanggal ultahku Dong :(

    BalasHapus
  2. ya maaf Sil, kan ada banyak kehidupan di dunia. sampe-sampe kamu ulang tahun aku juga lupa. hehe maaf yaa
    Selamat ulang tahun Silmii :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, MP3 dan Blogger

Pelangi Tanpa Warna